SMKN 1 SAWAHLUNTO

SISWA TKJ 21

revalia dwinta revian

"Pendidikan bukan cuma pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar. Tapi, juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan." - Shakuntala Devi

Senin, 30 Januari 2023

BAB VII KELAS 11

 Mengevaluasi Penyambungan Fiber Optik



Fiber optic dapat dihubungkan dengan metode pemasangan konektor (terminasi) atau dengan menghubungkan  langsung antarkabel fiber optik (Splicing).

Fusion splicing adalah tindakan bergabung dua serat optik end-to-end dengan menggunakan panas.Tujuannya adalah untuk memadukan dua serat bersama-sama sedemikian rupa sehingga sinar yang melewati serat tidak tersebar atau dipantulkan kembali. Proses splicing melibatkan fusi menggunakan panas lokal untuk mencairkan atau sekering dua ujung serat optik bersama-sama. Proses splicing diawali dengan menyiapkan setiap akhir serat untuk fusi.

A. Penyambungan Kabel Optik Menggunakan Splicer


1. Fusion Splicing Serat Optik

Dalam jaringan kabel titik rawan ganguan pada titik sambung. Penyebab gangguan pada kabel adalah masuknya air ke dalam closure. Dalam kurun waktu 5 s.d 10 tahun karakteristik kabel akan menurun Dengan demikian penyambungan kabel serat optik harus mengikuti prosedur yang sesuai dengan petunjuk pelaksanaannya. 

Prosedur penyambungan serat optik, yaitu:
a. Penyambungan kabel serat optik harus sesuai prosedure. 
b. Penggunaan peralatan dan material harus benar.
c. Pemasangan sarana sambung kabel harus sesuai petunjuk pelaksanaannya. 
d. Pengetesan harus dilaksanakan setelah selesai penyambungan. 

Fungsi sarana sambung kabel (closure) adalah untuk menempatkan tray dan agar kedap terhadap air. 
Proses penyambungan kabel dibagi menjadi 2 jenis, antara lain yaitu: 
a. Penyambungan secara mekanik (Mechanical splice)
b.Penyambungan secara heat shrink (Fusion splice)

Alat-alat yang digunakan dalam melakukan penyambungan kabel serat optik menggunakan splicer antara lain:
a).  Kabel serat optik
b).  Alkohol kadar minimal 95%
c).  Tissue
d).  Sleve/konector
e).  Penyambung kabel optik 
f).   Main sleve atas/bawah
g).  Clamp
h).  Clamping bar atas/bawah 
i).   Fiber sheet
j).   Tension member clamp
k).  Sarung tangan
l).   Pita ukur 
m). PVC tap

Langkah-langkah penyambungan kabel serat optik menggunakan splicer :
1. Masukkan plastik khusus (protection sleeve) untuk melindungi bagian core yang telah di-splice satu persatu dengan diberi tanda dengan spidol. 
2. Kupas core dari jaketnya menggunakan tang pengupas (fiber stripper) dengan cara memposisikan tang agak miring, tahan lalu tarik ke ujung core secara perlahan.


3. Setelah terkupas bersihkan core dengan tissue yang sudah dibasahi dengan alkohol sampai gesekannya mengeluarkan bunyi. Lakukan sebanyak 3 kali lalu keringkan dengan tissue. 
4. Lalu masukkan ke dalam pemotong core (fiber cleaver) dimana kita menempatkan ujung jaket pada skala antara 15 dan 20 mm, lalu potong. Pada saat memotong, pisau harus dijalankan dengan kecepatan yang sesuai dan konstan.


5.Setelah itu kita masukkan ke dalam splicer yang berfungsi menyambung core dengan teknik fusion. Jangan sampai ujung core menyentuh sesuatu benda sebab akan menambah redaman .


6. Kemudian tekan tombol set maka secara otomatis splicer akan meleburkan kedua core dan menyambungnya. Tunggu sampai layar menunjukkan estimasi redaman lalu tekan reset maka layar akan kembali ke tampilan awal. 
7.Setelah itu keluarkan core tersebut lalu geser plastik khusus tadi ke sisi core yang telah mengalami proses splice. Kemudian masukkan ke bagian splicer yang berfungsi untuk memanaskan plastik tersebut dan tekan heat. Tunggu sampai splicer mengeluarkan bunyi lalu keluarkan.


8. Kemudian letakkan core kembali ke dalam kaset seperti semula.




2. Rugi-rugi Serat Optik

Rugi-rugi penyambungan dapat terjadi karena: 
a. Perbedaan struktur fiber
     1) Diameter core tidak sama. 
     2) Letak core tidak berada di tengah.
b. Kualitas penyambungan 
    1) Permukaan serat tidak rata.
    2) Sumbu serat tidak sejajar.
    3) Penyimpangan sudut. 
    4) Serat masih basah.
    5) Ujung serat menyentuh sesuatu.





B. Prosedur K3 Penyambungan Kabel Fiber Optic


1. Keselamatan kerja pada penyambungan fiber optik 

Dalam panyambungan fiber optic ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:
a. Kebersihan tempat maupun alat kerja. 
1) Sebelum bekerja yakinkan bahwa alat  berfungsi dengan baik (sudah dikalibrasi),
2) Tempat dan alat bekerja harus bersih dari debu atau kotoran yang lain 
3) Setelah selesai bekerja alat dan tempat kerja dibersihkan dari sisa pekerjaan seperti potongan optik, jelly yang menempel dan kotoran lainnya.   

b. Kelengkapan keselamatan kerja
1) Sarung tangan 
2) Isolasi/lakban.
3) Kacamata pelindung

c. Urutan proses penyambungan, khususnya untuk keselamatan kerja.
1) Pekerjaan penanganan kabel dan sarana sambung kabel
a) Gunakan alat / perkakas kerja yang benar.
b) Memakai sarung tangan untuk pekerjaan seperti penarikan kabel, pengupasan kulit kabel, terminasi kabel.
c) Perhatikan lekuk kabel pada rute menikung, perhatikan aturan penekukan atau bending kabel.

d. Pekerjaan penyambungan fiber (serat) optik 
a) Gunakanlah sarung tangan.
b) Gunakan kacamata pelindung mata (bila ada). 
c) Sisa potongan optik dibersihkan dari alat maupun tempat kerja dengan cara diambil dengan lakban dan dibungkus kembali dengan Jakban, kemudian dibuang ke tempat sampah.
d) Jangan menyentuh langsung fiber optik yang sudah dikupas dengan tangan telanjang.
e) Jangan meniup potongan fiber optik.

2. Keselamatan kerja di jalan

Hal-hal yang perlu dipenuhi dalam bekerja di jalan, sebagai berikut.
a. Perijinan 

b. Kewajiban penanggung jawab lapangan :
1) Memprediksi arus lalu lintes, terutama jam sibuk 
2) Mencegah masuknya pihak ketiga
3) Bila perlu menempatkan petugas lalu lintas

c.  Penempatan material dan peralatan kerja
1) Atur peralatan dan material agar tidak mengganggu lalulintas.
2) Gunakan lampu penerangan, khususnya malam hari. 

d. Cara parkir
1) Tempatkan kendaraan ke arah datangnya lalulintas
2) Aktifkan rem tangan dan persneling pada rendah atau posisi mundur.
3) Ganjal roda bagian depan maupun belakang 
4) Menyediakan jalur bagi pejalan kaki
5) Menyediakan jalur bagi kendaraan umum

e. Pemasangan rambu pengaman 




1. Tujuan
a). Untuk memberikan informasi kepada masyarakat umum tentang adanya kegiatan.
b). Untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
2. Jenis rambu-rambu
a). Papan peringatan.
b). Lampu (flashing light).
c). Safety cone, safety bar, pagar/tali pembatas, bendera dan lain-lain
3. Hal-hal yang harus diperhatikan
a). Harus dipasang walaupun pekerjaan hanya sebentar.
b). Harus jelas dan nampak dari kejauhan.
c). Saat memasang, harus dilakukan dari arah datangnya kendaraan dan sebaliknya pada saat pengambilan.
d). Pastikan rambu-rambu tersebut masih berfungsi dengan baik. 
4. Penempatan rambu-rambu pengaman

3. Keselamatan kerja di manhole



a. Di dalam manhole kemungkinan ada gas-gas yang membahayakan atau berkurangnya oksigen yang tidak dapat dideteksi panca indra. Oleh sebab itu sebelum melakukan kegiatan di dalam manhole harus dilakukan:
1) Ventilisasi, pengukuran gas, dan mengeluarkan air dari dalam manhole
b.Hal-hal harus diperhatikan:
1) Gunakan tangga khusus waktu masuk kedalam manhole. 
2) Gunakan tali atau kantong untuk me- nurunkan/menaikkan material & peralatan.
3) Bekerja di manhole paling sedikit harus dilakukan 2 orang (1 orang harus berada diluar manhole).
4) Jangan menyalakan api di dalam manhole.
 
Tujuan ventilisasi adalah menghilangkan gas-gas berbahaya serta mencukupi kandungan oksigen. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
a. Gunakan ventilator manhole
b. Tempatkan pada posisi yang menguntungkan.
c. Jarak antara ujung pipa dengan dasar manhole + 30 cm.
d. Ventilasi minimum 5 x volume bagian dalam manhole.
e. Selama bekerja, sebaiknya ventilasi dilakukan secar berkesinambungan .

Pengukuran udara di dalam manhole bertujuan untuk mengetahui kandungan udara di dalam manhole Hal-hal yang perlu diperhatikan 
a. Pastikan bahwa kondisi "Gos Detector" dalam keadaan baik.
b. Pengecekan udara minimal di 5 trik yang berbeda secara horizontal dan vertikal .

Gejala tubuh akibat kekurangab oksigen:

Kadar Oksigen

Gejala

16 %

Sesak nafas,detak jantung bertambah cepat,sakit kepala,muntah.

12 %

Sakit kepala,lemas (bias pingsan atau meninggal dalam manhole)

10 %

Muka pucat,sulit bernafas,pingsan.

8 %

Pingsan (bias meninggal dalam 7-8 menit) jika terus berlanjut

6 %

Pingsan dalam satu tarikan nafas.Napas berhenti dan akan meninggal dalam 6 menit.

 

4. Keselamatan kerja di atas tiang

Hal-hal yang perlu diperhatikan:   
a) Sebelum menggali tanah, periksa jaringan lainnya yang ada di dalam tanah
b) Pasang aksesoris sebelum tiang didirikan. 
c) Saat akan naik keatas tang, periksa kondisi tang.
d) Kenakan sabuk pengaman, helm, sarung tangan, dsb.
e) Hentikan kegiatan saat hujan turun yang disertai dengan petir.


5. Keselamatan kerja saat pengukuran

Hal-hal yang perlu diperhatikan:
a) Tidak melihat langsung pada ujung serat optik, karena cahaya yang dikeluarkan oleh sumber optik termasuk cahaya tidak tampak
b) Pada pengukuran dengan OTDR, terminal ujung jauh ditutup. 
c) Lakukan pengecekan power yang digunakan secara saksama.
d) Menaruh peralatan praktik (OPM dan OTDR) secara hati-hati.
e) Memasang konektor dengan benar.

Senin, 23 Januari 2023

Jobshet Fiber Optik

SMKN 1 SAWAHLUNTO

LEMBARAN              :  JOB SHEET  1

JURUSAN  :  TEKNIK KOMPUTER JARINGAN

MATA PELAJARAN  : TEKNOLOGI JARINGAN BERBASIS LUAS

WAKTU    : 6 X 45 MENIT

TOPIK                        : FIBER OPTIK

KODE        :  -

JUDUL                       : KABEL FIBER  OPTIK








A. Tujuan :

     Setelah job sheet  1, peserta didik diharapkan dapat :
1.Mengetahui dan menjelaskan alat-alat fiber optik
2.Mengetahui dan menjelaskan tentang fiber optic
3.Mengetahui dan menjelaskan teknik-teknik fiber optic

B. Alat dan Bahan :
    Alat dan bahan yang dibutuhkan :
1.Kabel fiber optic


2.Fusion Splicer


   Alat ini untuk menyambungkan sebuah core serat optik, dimana serat tersebut terbuat / berbasis kaca, dan mengimplementasikan suatu daya listrik yang telah dirubah menjadi sebuah media sinar berbentuk laser.

3.Stripper Atau Miller


   Alat ini berfungsi sebagai media untuk memotong dan mengupas kulit dan daging kabel.

4.Cleaver

   Alat ini berfungsi untuk memotong core yang kulit kabel optic-nya sudah dikupas

5.Optical Power Meter (OPM)
   Alat ini berfungsi untuk mengetahui seberapa kuat daya dari signal cahaya yang sudah masuk

6.Optical Time Domain Reflectometer (RTDR)


    Alat yang digunakan untuk mendeteksi komunitas atau himpunan suatu kabel serat optik dalam jarak tempuh tertentu.

7.Light Source


    Alat ini berfungsi untuk memberikan suatu signal untuk jalur yang akan dilaluinya

8.Optical Fiber Identifier

  Alat ini berfungsi untuk mengetahui arah signal dengan penunjuk arah dan besar daya yang di laluinya.

9.Visual Fault Locator
   Alat ini berfunsi untuk melakukan pengetesan pada core fiber optic.

10. Bit Error Rate Test
      Alat ini berfungsi sebagai pengecek koneksi jaringan TDM 

11. Fiber Optic Adapter
     
    Alat berfungsi untuk melakukan penyambungan/menghubungkan kabel fiber optik satu dengan yang lain.

C. Teori Pendukung :    
  
    Fiber optik adalah saluran transmisi atau sejenis kabel yang terbuat dari kaca atau plastik yang sangat halus dan lebih kecil dari sehelai rambut, dan dapat digunakan untuk mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu tempat ke tempat lain. 

komponen utama yang membentuk kabel fiber optik:
a.Bagian Inti (Core), terbuat dari bahan kaca dengan ukuran yang sangat kecil, yaitu berdiameter 2µm hingga 50 µm, Semakin besar diameter fiber optik, maka semakin baik pula performanya.
b.Bagian Cladding, adalah pelindung yang menyelimuti bagian inti, yang biasanya berukuran mulai dari 5µm hingga 250 µm.
c.Bagian Coating, adalah mantel yang terbuat dari serat optik berbeda dari cladding dan core. 
d.Bagian Strength Member & Outer Jacket, adalah bagian terluar dari Fiber Optik, yang berfungsi untuk melindungi 3 lapisan terdalam dari gangguan fisik secara langsung.

Cara Kerja Fiber Optik :
   Jika kabel biasa menggunakan arus listrik untuk menyebarkan data, maka fiber optik menggunakan aliran cahaya. Aliran cahaya yang digunakan tersebut adalah hasil konversi dari aliran listrik, jadi tidak akan terganggu oleh gangguan elektromagnetik sama sekali. Selanjutnya, fiber optik memanfaatkan serat kaca demi mendapatkan refleksi cahaya yang tinggi sehingga semua data bisa disebarkan/ditransmisikan dengan kecepatan optimal. Refleksi tersebut berasal dari cahaya yang berada pada serat kaca dengan sudut rendah.

Kelebihan Fiber Optik :
1)Memiliki kecepatan transmisi data yang super cepat, yang mencapai 1 GB/detik.
2)Bisa mentransmisikan data dalam radius yang jauh tanpa membutuhkan penguat sinyal.
3)Tahan terhadap cuaca.
4)Tahan terhadap karat karena terbuat dari kaca dan plastik.
5)Berukuran kecil dan fleksibel.
6)Tidak terganggu gelombang elektromagenetik (seperti gelombang radio) karena menggunakan cahaya sebagai media transmisi.
7)Tidak ada risiko konsleting listrik karena kabel tidak mengandung listrik.
8)Tingkat keamanan tinggi karena tidak ada distorsi (jikapun ada, cuma sedikit).

Kekurangan fiber optic :
1)Biaya instalasi dan maintenance mahal.
2)Membutuhkan sumber cahaya yang kuat.
3)Kabel harus dipasang di jalur berkelok demi memaksimalkan kecepatan dan kelancaran penyebaran cahaya.

D. Langkah-langkah :
     Terdapat 3 metode yang menjadi pilihan dalam melakukan penyambungan kabel serat optik, yaitu:
1.Metode Fusion Splice




   Metode ini merupakan metode penyambungan dengan cara Fusi (peleburan) sesuai titik lebur serat optic.
a.Proses persiapan yang meliputi pengupasan coating dan cladding, keduanya adalah lapisan pelindung inti fiber. 
b.Pengupasan gunakan spesial alat kupas serat optik (fiber stipper tool)
c.Pembersihan fiber optik dengan mengunakan tisue yang dibasahi alkohol 90%.
d.Pemotongan inti fiber dengan menggunakan alat fiber cleaver atau yang sejenis.
e.Penyambungan yang meliputi alignment, position dan fusion kemudian menampilkan posisi titik sambung serta nilai loss fiber.
f.Pemasangan fiber heat shrink sleeve untuk melindungi sambungan fiber agar tidak mudah patah


2. Metode Mechanical Splice

    Mechanical Splice adalah metode penyambungan dengan cara mekanik. Untuk melakukan penyambungan dengan sistem mekanik ini, diperlukan mechanical splice assembly serta perangkat tool kit set, penyambungan dengan metoda ini tidak diperlukan catuan listrik. 
a.Persiapan penyambungan dilakukan seperti pada point 1 butir a sampai dengan c kemudian proses penyambungan dilakukan dengan menempatkan kedua ujung fiber optik pada V grove dari mechanical splice.
b.Langkah berikutnya, dilakukan pengaturan agar kedua ujung fiber optik bertemu pada medium mechanical splice. 
c.Kemudian handle pada mechanical splice didorong ke bawah sehingga dapat menekan cap dari mechanical splice.
d.Sambungan dengan sistem mechanical splice ini relatif mudah dan tidak memerlukan catuan listrik seperti yang ada pada fusion splicer, namun hasil ukur dari sambungan ini berkisar pada 0.2 dB.

3.Metode Connector Splice



    Metode ini adalah metode penyambungan fiber optik dengan menggunakan konektor, adapun sistem ini mempercepat sistem penyambungan.
Sistem penyambungan dengan konektor hanya memerlukan material konektor saja sebagai titik sambung namun untuk semua persiapan sama dengan fusion splice dan mechanical splice.

E. Evaluasi

Dari ketiga sistem penyambunagn fiber optik tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan yaitu :
a.Rugi daya sinyal pada saat penyambungan disebabkan oleh cara penyambungan itu sendiri.
b.Sistem penyambungan dapat tentukan dengan mempertimbangkan kualitas sambungan.
c.Hasil penyambungan dengan menggunakan sistem fusion splice akan lebih baik dari kedua sistem penyambungan yang lain.
d.Penyambungan dengan sistem mechanical dan connector nilai redaman tidak bisa diketahui langsung.
Artinya kita perlu mempertimbangkan dan memilih metode yang paling tepat dan cepat di dalam pelaksanaannya.