Mengevaluasi Permasalahan Jaringan Fiber Optik
A. Gangguan dan Troubleshooting Fiber Optick
Pada saat melakukan Instalasi terjadi beberapa masalah, yaitu pada saat pengecekan koneksi ternyata koneksi belum sepenuhnya berjalan dengan lancar, dan lass yang dihasilkan sangat besar atau tidak memenuhi standar loss yang direkomendasikan yaitu RX sensitivity-nya antara-22 s/d-24 db, pada saat dilakukan penghitungan ternyata loss yang dihasikan adalah -38 dB, setelah tim men-troubleshooting masalah ini mulai dari konstruksi kabel apakah ada bending atau kabel yang patah, penggunaan attenuator yang tepat, setelah beberapa tindakan tersebut dilakukan ternyata loss yang dihasilkan masih saja besar. Tim instalasi sempat mengganti atau men-splice ulang patch cord karena diasumsikan s splicing-nya kurang maksimal, ternyata tindakan tersebut juga tidak merubah hasil penghitungan loss yang direkomendasikan.
Setelah tim melakukan pengecekan ulang di OTB ternyata sumber masalah ditemukan yaitu kebut FC yang masuk salah satu port di OTB tidak tertancap sebagaimana mestinya, inner dari konektor tersebut tidak masuk secara tepat. Hal inilah yang ternyata menyebabkan loss yang dihasilkan tidak sesuai dengan yang direkomendasikan.
Dari problem diatas dapat diambil kesimpulan diantaranya:
1. Pastikan kabel fiber yang digunakan bersih dan tidak patah atau rusak.
2. Pada saat splicing pastikan foss yang dihasilkan seminimal mungkin.
3. Pada saat memasukan konektor ke salah satu port di OTB pastikan inner-nya masuk.
4.Pada saat pengukuran dengan power meter pastikan gelombang yang digunakan sama.
Bila terjadi beberapa masalah, maka cek beberapa keterangan konfigurasi :
1. Failure of ONU to range.
a. Fiber yang kotor.
b. Sinyal degradasi.
1) Kabel fiber terlalu panjang.
2) Kabel fiber rusak.
3) Bad connections/fiber plant components.
4) Laser/receiver tidak berfungsi.
c. ONU ID# conflict
2. Loss permanent pada frame di TDM.
a. Konfigurasi kabel yang salah.
b. Ports/Channels/Board tidak aktif.
3. Tidak bisa telnet ke SCC management port (pada OLT).
Konfigurasi yang salah pada SCC IP parameternya.
4. No IP traffic.
a. VLAN membership yang salah.
b. Ports tidak di enabled.
B. Mengatasi Gangguan Jaringan Akses Fiber Optic
1. Gangguan pada jalur kabel fiber optic
a. Serat Optik Putus
Hal-hal yang dapat menyebabkan serat optik putus :
1) Pengaruh mekanis
a) Pohon roboh/tumbang menimpa jalur kabel udara.
b) Jalur kabel udara terkena benang layang-layang
c) Tiang roboh
d) Force majeur
2) Pengaruh instalasi
Penarikan kabel optik dilakukan dengan gaya tarik.
b. Crack (Patahan/Retak)
Crack atau retakan pada serat optik dapat menyebabkan loss refleksi.
Hal-hal yang dapat menyebabkan serat optik retak :
1) Crush
2) Bending radius
3) Impact
4) Torsion
5) Vibrasi
c. Perembesan Air
Proses penanganan gangguan pada jalur kabel serat optik :
1) Penerimaan tanda gangguan
Dengan adanya laporan gangguna dari sentral transmisi yang menyatakan sistem jatuh maka melalui CTF dapat ditentukan jalur/kabel serat optik yang terganggu.
2) Estimasi lokasi gangguan
2. Cara Mengatasi Gangguan
a. Patroli jaringan
1) Dilaksanakan dengan menyusuri seluruh rute kabel mulai dari FJB pada satu STO ke STO lain.
2) Hal-hal yang dapat diamati dalam patroli jaringan antara lain:
a) Tiang
b) Temberang
c) Aksesoris
d) Rute dan kabel
b. Pemeliharaan rutin dan potong-potong.
c. Pengukuran spare kabel.
d. Perbaikan spare core (storing core).
3. Beberapa hal yang mempengaruhi performa fiber optic
a) Loss
Diakibatkan oleh panjang span fiber dan banyaknya splicing di sepanjang span fiber tersebut. Besarnya loss dari suatu span fiber bisa diukur dengan menggunakan OTDR.
b) Dispersi
1) Chromatic dispersion (CD)
Dispersi ini diakibatkan oleh variasi fiber index (karakteristik fiber) dengan panjang gelombang. Chromatic dispersion bisa diukur dengan menggunakan chromatic dispersion meter. Salah satu penyebab penurunan kualitas sinyal pada jaringan fiber optic adalah chromatic dispersion yang berfluktuasi yang dipengaruhi oleh suhu kabel fiber optic. Chromatic dispersion bisa diatasi dengan membuat chromatic dispensation dengan membuat semacam spoel atau gulungan fiber optic untuk mengkompensasi cacatnya sinyal yang ditransmisikan.
2) Polarization Mode Dispersion (PMD)
PMD diakibatkan oleh berubahnya bentuk fiber optic yang diakibatkan suhu,kelembapan atau adanya tarikan fiber yang bengkok.Dalam fiber optic ketidak sempurnaan fabrikasi membuat sinyal menjadi asimetris dan dapat menyebabkan mode memiliki kecepatan propagasi berbeda. Perbedaan kecepatan Ini disebut Differential Group Delay (DGD) dan PMD adalah koefisien statistic normalisasi panjang rata-rata nilai DGD. PMD dapat diminimalisir dengan pemilihan kabel dan instalasi yang baik. Lain dengan CD yang bisa diatasi dengan membuat chromatic dispensator, PMD tidak dapat diatasi.
c. Rusaknya Sealed dan Jacket Fiber
fiber Sealed dan Jacket Fiber akan semakin jelek, misalnya mengeras kemudian pecah
C. Pemeliharaan , Perawatan , dan Perbaikan Jaringan Berbasis Fiber Optik
1. Pemeliharaan Rutin
a. Pemeliharaan perangkat SKSO/OLTE.
1) Pemeliharaan Harian Check-list Perangkat OLTE.
2) Pemeliharaan Mingguan.
Agar peralatan pada perangkat siap pakai sewaktu-waktu, maka perlu dilakukan pemilharaan setiap minggu satu kali yang meliputi pengecekan,pengetesan, dan pembersihan fisik antara lain sebagai berikut:
a) Alat sambung kabel serat optik (splicer).
c) Generator Set.
d) Mobil SKSO.
e) Alat komunikasi (Talk Set).
f) Power Meter.
g) Sarana penunjang lainnya.
3) Pemeliharaan Bulanan:
a) Pengecekan Manhole/Handhole
Untuk menghindari gangguan pada titik sambung (joint closure) akibat masuknya air/lumpur dan menghilangnya tanda-tanda yang terdapat pada kabel pada Manhole/ Handhole perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:
(1) Bersihkan/kuras Manhole/Handhole yang terdapat pada titik sambung kabel optik secara rutin sesuai jadwal pemeliharaan.
(2) Cek kondisi stopper yang menutupi lubang-lubang polongan, bila terjadi penyimpangan segera diadakan perbaikan untuk mencapai kondisi seharusnya.
(3) Cek kondisi kabel dan penyangga kabel beserta aksesorisnya, bila ada yang kurang/ terlepas segera diperbaiki/diganti.
(4) Mengganti tanda pada kabel jika tanda pada kabel yang sebelumnya hilang,untuk memper- mudah mengetahui jenis kabel yang ada pada Manhole/Handhole tersebut.
(5) Cek kondisi tutup Manhole/Handhole bila ada yang rusak atau catnya kusam segera di cat ulang.
(6) Sehabis bekerja pada Manhole/Handhole jangan lupa menutup kembali tutup Manhole /Handhole dengan rapat dan sempurna.
(7) Memberi tanda berupa patok pada Manhole/Handhole yang berada pada posisi rawan, persawahan dan perbukitan.
b) Patroli Kabel Serat Optik Tanah (Burled Cable)
Pelaksanaan patroli dengan menelusuri rute kabel sejauh 6 km/hari, agar situasi dan kondisi kabel optik dapat diketahui perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:
(1) Cek pipa besi galvanis jembatan kabel pada penyeberangan sungai.
(2) Cek tiang beserta aksesorisnya, pondasi dan kawat duri sebagai pengaman, bila terjadi kerusakan segera dilaksanakan perbaikan.
(3) Cek rute dan tanda rute (rambu-rambu) untuk mengetahui kondisi lingkungan disekitar rute kabel, apabila terdapat hal-hal yang membahayakan kabel serat optik, misalnya longsor, rumput tinggi dan pepohonan, kegiatan penduduk karena adanya pemukiman baru, serta proyek PU/PERUMKA maka segera diambil langkah-langkah pengamanan maupun perbaikan.
(4) Cek lokasi Manhole tempat sambungan, untuk mengetahui kondisi lingkungan sekitar, bila terjadi hal-hal yang membahayakan segera dilaksanakan langkah pengamanan.
(5) Mengganti tanda rute kabel yang berupa patok apabila patok yang lama hilang/rusak oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
c) Patroli Kabel Serat Optik Udara (Aireal Cable)
(1) Cek pepohonan dan rerumputan sekitar rute yang dilewati kabel serat optik, bila
membahayakan perlu dilakukan perambahan dan pemotongan.
(2) Cek kondisi joint closure yang berada di tiang atau di Handhole, bila membahayakan
perlu dilakukan pengamanan.
(3) Patroli dilaksanakan dengan jalan kaki menelusuri rute kabel sejauh 7 km/hari, agar situasi kabel dapat diketahui sedini mungkin.
d) Pengukuran tegangan input maupun output perngkat OLTE
4) Pemeliharaan 6-Bulanan:
Pengukuran core yang kosong dilakukan dua kali dalam setahun yang meliputi :
a) Mendeteksi peningkatan loss kabel (dB/km).
b) Mendeteksi peningkatan loss pada titk sambung.
c) Mendeteksi kerusakan fisik serat optik (lokalisir gangguan).
d) Pengukuran Optical Output Power OLTE.
5) Pemeliharaan Tahunan
a) Pengukuran BER (Bit Error Rate) tingkat E-1 atau STM-1 yang idle
b) Alarm test.
c) Pengukuran Sensitivitas dan Margin Receiver
b. Pemeliharaan Jaringan Kabel Optik.
Pemeliharaan jaringan kabel optik terdiri dari
a.Pemeliharaan 2-Mingguan:
1) Patroli Jarkab optik kabel udara.
2) Patroli Jarkab optik kabel tanah.
3) Patroli Jarkab optik kabel duct.
b. Pemeliharaan 6-Bulanan:
Pengukuran Core Optik yang Ide meliputi:
- Kontinuitas fiber optic (OTDR).
- Redaman total antarterminal (Laser Source dan Power meter).
2. Pemeliharaan Dadakan
a.Pemeliharaan Dadakan Perangkat SKSO/OLTE.
Pada kondisi operasi normal (tidak terjadi ganguan sistem): Pada waktu terjadi gangguan pada sistem maupun perangkat, untuk mengatasi hal ini maka modul yang mengalami alarm segera diganti.
b.Pemeliharaan Dadakan Jaringan Kabel Optik
Pemeliharaan dadakan pada kabel serat optik terjadi apabila kabel serat optik yang digunakan sebagai media transmisi terputus. Putusnya kabel serat optik ini dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu terkena senapan angin, gesekan benang layang-layang, proyek pemerintah, dan kegiatan
masyarakat.
0 comments:
Posting Komentar